Naik AirAsia, Tensi Naik Pula…
Maklum, pertama kali naik Air Asia (AA) jadi pada norak. Ceritanya anak sulung kakak saya di Batam akan nikahan. So kami keluarga besar ditransfer uang tiket pesawat AA. Semua yang di Jakarta, Bogor, Yogya (kota tempat tinggal kedua mempelai dan saudara-saudaranya), sampai ada yang dari Tuban, semua numplek blek ke Batam.
Termasuk kami. Namanya pengalaman pertama naik AA yang unik memang bikin penasaran. Tapi jantungpun kebat-kebit. Pertama, Mama yang ragu akan keselamatan selama terbang. Namun saya meyakinkan beliau, “Jangan kuatir, Ma… standar keselamatannya ngikutin standar internasional, kok. Dia murah karena memotong mata rantai pemesanan tiket, tiketpun kita yang nyetak sendiri setelah diambil dari internet, bla bla bla…”
Kemudian Bapak yang pada hari H (Senin, 22 Mei) sibuk dan resah sendirian. Kami terbang jam 15.00 (emang sih jarak bandara dan rumah di Cimanggis jauh, but biasanya berangkat dua jam sebelumnya keburu) tapi Bapak minta kami jam 11 siang udah berangkat ke airport.
Kasak-kusuk lah saya dan ponakan yang baru berkemas setelah kelelahan karena sehari sebelumnya jadi panitia acara pengajian remaja ‘Seks di Usia Muda’ .Karena beliau mau nyusun koper di mobil. Udah gitu kita pake acara minta turunin koper ponakan karena ada barang yang belum masuk. Meskipun Bokap sih nurunin juga kopernya sambil ngedumel he he he…
Sampai bandara, Bokap semakin tegang, nggak sabaran, dan buat kite-kite (saya, mama, dan dua ponakan) juga tegang dan berdecak melulu. Karena katanya kan AA landingnya sebentar, so beliau maunya buru-buru aja.
Padahal…. penerbangan ketunda 1,5 jam saudara-saudara! Dimulai telatnya pesawat datang. Padahal saya dan bokap dah antri, bersiap untuk lari mencari bangku (maklum pertama kali, katanya kan kayak naik bis umum, rebutan bangku. Kita berlima maunya berderet, apalagi Mama nggak bisa jalan cepat)
Yo wis, pada bubar antrian di belakang gate keberangkatan, tapi beberapa bertahan termasuk saya. Pegel-pegel saya tahan, bengong aje dengerin obrolan dua bapak (satu chinese, satunya Flores kayaknya) tentang cara membesarkan anak dan kesedihan akan masa depan bangsa kita. Saya diam-diam salut dengan si bapak chinese, obrolannya berisi banget.
Terus jam 15.30 an gate dibuka. Iya loh… pada lari menuju pesawat. Nggak nyaman si sebenarnya cara begini. Saya dapat di deretan G sudah saya take lima bangku (tiga deret sebelah kanan dan dua bangku di kirinya, menyisakan satu yang kosong). Panik-panik sebel nungguin keluarga saya yang lamaaaaa… banget nggak nyampe-nyampe pesawat.
Tiba-tiba,”Oh…ini kosong….” seorang Bapak dengan koper kecil main serobot wilayah saya dan duduk di samping jendela.
“Ini ada orangnya Pak,” protes saya.
“Apaan ada orangnya, mana????” katanya cuek, nadanya meninggi.
“Loh, ini sudah saya jagain buat keluarga saya,” jawab saya lagi.
“Mana? Nggak boleh gitu Mbak, orangnya nggak ada kok!” ia berkeras. Gondok banget saya, tapi karena nggak mau ribut, saya ngalah, untunglah deretan sebelah kiri sama sekali belum keisi, so kami tetep bisa berdampingan.
Nggak lama datanglah Leka (ponakan remaja) dan Fira (ponakan kelas 2 SD), langsung saya suruh mereka duduk dulu di samping si bapak reseh itu, saya pindah ke deretan kiri, ngejagain. Barulah nongol bapak dan mama.
“Pak, duduk di sana, samping bapak-bapak reseh itu, main rebut bangku kita aja!” saya berkata pada bapak, nggak tau deh dia denger/nggak, saya masih gondok banget sama tingkahnya tadi.
Akhirnya Fira duduk di tengah, Bapak di paling pinggir. Kemudian deretan kirinya diisi Leka, saya, dan Mama.
Eh yang nyebelinnya lagi, entah keder atau kenapa, si reseh itu malah membuka percakapan sama Bapak saya! Sebel kan??!!! Ditanggepin si sama Bapak tapi sekedarnya. Dia sempet ngajak Fira becanda pula. Gimana nggak makin sebel ane?
Apa tindakan saya salah nge-take-in bangku? Saya melihat penumpang lain juga melakukan hal yang sama kok. Bahkan ada seorang bapak lagi yang kayaknya kenal dengan si Pak reseh itu, tadinya dia ikut-ikutan mau duduk di samping dia, namun saya bilang, “Ini ada orangnya, Pak,”
Syukurlah dia nggak jadi, malah ngomong ke si Pak reseh, “Ada orangnya tuh…” kemudian doi ke belakang.
Jam 16.00 pesawat udah mundur, bersiap take off, pramugari sudah memperagakan prosedur penyelamatan jika terjadi sesuatu. Tahu-tahu…. pesawat maju lagi.
“Kami mohon maaf harus kembali karena ada masalah teknik. Akan kami kerjakan selama lima menit,” lapor pilot. Saya dan Mama sama-sama nggak tenang. Duh, pake ada masalah teknik lagi. Namanya naik pesawat, kan paling takut kite, paling kenceng jantung berpacu. Dalam hati saya, “Jangankan lima menit, dua jam benerin gue ladenin deh, yang penting bener en siap terbang!”
Jam 16.35 kami akhirnya take off, setelah sebelumnya jalan jauh banget ke landasan pacu, kok kayaknya jalan mulu, kapan take offnya sih???!!! Penerbangan Alhamdulillah lancar, meskipun kudu nahan haus karena minuman kan kudu beli (mahal bow, sayang banget uangnya, mending beli di luar, harga naik berlipat-lipat yak?)
Kemudian pulangnya, karena mencari tiket yang murah, tadinya kami dapat pulang tanggal 27 Mei. Tapi karena resepsi nikahan baru selesai tanggal 26 malam, Mama nggak mau pulang tanggal 27. Capek katanya. So, saya, Leka, dan Fira pulang duluan. Bapak dan Mama diundur tanggal 31 Mei meski harus nambah biaya. Tapi toh diurusin kakak ipar saya ini, he he he…
Tanggal 27 ini, berbarengan dengan beberapa saudara yang juga pulang hari itu, rame-rame ke bandara, dengan beberapa mobil (meski pesawatnya beda-beda). Sedihnya paginya kan kita baru aja dikejutkan dengan berita gempa di Yogya. Sudara-saudara yang aturannya mulih ke Yogya minggu tanggal 28 Mei kebingungan karena bandaranya nggak bisa dipakai.
Sepagi itu kami sibuk mentengin teve melihat perkembangan berita di Yogya. Mana nenek di Yogya nggak bisa dihubungi lagi, untuk mengecek keadaannya. Beberapa saudara akhirnya mutusin nginap di Jakarta dulu sebelum kembali ke Yogya.
Bapak juga panik melulu, bolak-balik nelpon kakak di Cimanggis, nyuruh nelpon ke Yogya tapi nggak berhasil-berhasil dihubungi. Tapi penerbangan pulang ini lebih dag dig dug, suara mesin kayaknya aneh deh, kayak suara mesin butut (perasaan loh ya) trus take off nggak lancar. Goyang-goyang mulu, malah sempet turun sesaat, bikin geli aja. Duh… saya jadi inget Mandala di Medan, “Ya Allah… plis… baik-baik aja ya…” saya nggak henti memohon.
Saya gelisah melulu, nahan BAB pula, udah ke toilet eh di dalam toilet goyang-goyang lagi, nggak keluar deh, pipis doangan, trus buru-buru balik ke bangku, sempet nyasar lagi he he he.. jalannya kejauhan ke belakang.
Selama terbang banyak goyangnya, kayak ada suara mesin yang kurang dikasih minyak pelumas pula, duh bikin senewen, baca koran juga nggak khusu’. Yang ada selama terbang hati ini sibuk zikir dan taubat aja (masih merasa banyak dosa gitu). Mendaratnya juga kurang mulus, masih goyang-goyang mulu pesawatnya.
Tapi pas roda udah menyentuh landasan, phyuuuhhhh…….. Alhamdulillah… lega buanget, Allah Maha Buaikkk……thanks ya Allah…….
Bagaimana pengalaman rekans sekalian naik AA? Untuk Juli-Maret besok murah-murah ya? Saya pengen ke Bali nih, kudu lewat internet yak mesennya?
***