Sekalinya Masup TV untuk Simulasi Gempa Trans TV

August 21st, 2007 by laura-khalida

Ceritanya saya diajak Mel teman saya untuk meeting di sebuah LSM spesialis penanganan bencana alam di kawasan Ciputat, rencananya kami dapat proyek untuk menggarap majalah internal mereka. Pagi-pagi saya sowan ke rumah Mel di kawasan Arteri Pondok Indah, kemudian kami berangkat bareng.

Tunggu punya tunggu meeting itu tak kunjung mulai, malah saya melihat kesibukan kru LSM membuat tulisan2 di kertas seperti evakuasi, dll. Ternyata hari ini ada simulasi gempa yang diliput Trans TV, untuk acara Good Morning (mungkin tayang besok atau lusa).

Saya bengong, Mel ketawa ngakak berkata,"Kasihan banget lu Dek, gue lupa kasih tau hari ini ada simulasi gempa, ntar ikutan ya…" Saya hanya bisa pasrah, ternyata memang ikutan semua, semua kudu acting, untungnya di grup saya benar2 diajak ngobrol.Teh Ani, wanita berjilbab itu kocak banget, paling semangat simulasi, dengan cueknya makan Cireng di meja, saya ikutan, sementara Pak Arif cerita soal sebuah rumah yang mau dijual, kami tekun dengerin, tiba-tiba ada gebukan2 di meja dan teriak,"Gempa… gempa…" kami jadi panik betulan dan histeris sesuai skenario kami bertingkah mencari selamat dengan heboh, hiruk-pikuk, sampai ada yang jatuh betulan, ketumpahan kopi, ngangkut kursi, dll.

Namanya syuting ya berkali-kali take, kamipun begitu, kameramen Transnya berulang kali bilang,"Jangan pada ketawa dong," ulang lagi, terus begitu. Pertama take di lantai 3, ternyata semua lantai, termasuk adegan berkumpul di depan kantor LSM. Tayang 3 menit saja syutingnya makan waktu lama seperti itu. Sekarang jam 14.30 an kru pada makan, saya berpikir: kapan meetingnya yak….

Mel tak henti berkata,"Sekali datang lo ga terlupakan ya, kasihan deh lo sekalinya masuk tipi buat simulasi gempa…" Yah nggak apalah, seneng saya dapat pengetahuan simulasi gempa dan Mak… Babe… aye masup tipi….

Addicted to PORNOGRAPHY

February 25th, 2007 by laura-khalida

Kecanduan sex membuat Jeni (25) sakaw. Semalaman tidak bisa tidur, gelisah, bolak-balik di tempat tidurnya. Ingin rasanya ia segera mencari ‘mangsa’. Malam-malam tak jarang ia pergi ke cafe setempat untuk mencari pria one night
stand.

Kecanduan terbesar di Amerika adalah PORNOGRAFI. Ada sekitar 4 juta situs porno yang diakses oleh 40 juta orang! 85-90%nya mengakses hanya untuk iseng, sisanya kecanduan.

Perilaku kecanduan seks ini ternyata persoalan yang berat,”Apakah sama rasanya kayak ketika saya kecanduan makan?” tanya Oprah penasaran. Yupe… lagi-lagi hal ini saya dapatkan dari salah satu tayangan favorit: Oprah Show .

Jutaan wanita (juga pria tentunya) di Amrik menderita kecanduan seks ini. Contohnya adalah seorang gadis muda bernama Jenifer (25) yang telah bobo dengan 89 pria!!!
Seperti telah saya paparkan di awal tulisan ini. Begitulah rasanya kecanduan sex bagi Jenifer.

Ia membuat list berupa nama-nama pria yang telah ditidurinya. Jika daftar di jurnalnya itu bertambah, ia akan merasa berharga, gadis yang dikejar-kejar, dan gadis yang laris-manis.

Bahkan Jenifer rela memakai cara murahan dalam mendekati pria yang diincarnya, “Saya melihatnya di cafe, mendekatinya, kemudian satu jam kemudian kami sudah berada di hotel…” melihat pria di bar seperti melihat kue sus di toko kue dan membelinya!
Atau melakukan sex dengan orang asing yang tidak sengaja masuk ke rumahnya!

Tapi ternyata bukan kenikmatan yang Jenifer rasakan setiap kali ia berhubungan sex,”Aku merasa hampa. Kadang aku menikmatinya… tapi aku melakukan ini terlebih untuk… menghukum diriku. Rasanya aku susah berhenti…”

Menghukum diri? Memang apa salah Jenifer? DR. Robin Smith mengatakan, rata-rata pecandu seksual melakukan hubungan sex bukanlah untuk mencari kepuasan, orgasme. Kecanduan ini malah nggak ada hubungannya dengan seks. ”Mereka mungkin nggak pernah ereksi kala melakukannya…. kecanduan sex hanyalah gejala untuk menutupi luka yang sesungguhnya.”

Jenifer malah bilang,”Aku melakukan ini karena… aku benci diriku sendiri!”
Semakin panjang listnya membuktikan semakin ia diinginkan, dianggap spesial, padahal,”Ini list hukuman bagi diriku, karena aku merasa mati rasa setiap berhubungan seksual.” Seperti orang yang kecanduan obat, dosisnya harus terus bertambah karena nggak terasa lagi efeknya, demikian pula list itu.

Gail, sang ibu yang syok mendengar pengakuan Jenifer merasa prihatin. Jenifer memang malang, ayahnya tidak pernah memberikan panutan yang baik sejak kecil, terutama soal harga diri. Jeni selalu berusaha mencuri perhatian dan kasih sayang dari ayahnya (yang dilampiaskannya dengan mencari perhatian dari pria-pria hidung belang), ia pun harus berjuang keras untuk membuat ayahnya bangga (yang rupanya sulit dicapai).

“Apakah kau nggak kepikiran punya hubungan yang tetap dan normal, hingga hanya melakukan hubungan sex dengan pacar tetapmu? Terutama untuk menghindari kehamilan tak jelas dan penyakit,” Oprah ingin tahu.
Jenifer menggeleng,”Aku merasa nggak berhak punya hubungan normal… karena perilaku yang buruk! Aku bukanlah tipe cewek yang pantas dikenalkan pada calon mertua. Mengenai kehamilan… aku mandul, kalopun hamil… itulah gunanya aku buat list untuk melacak siapa kira-kira ayah bayiku…”

Kasus yang cukup seru adalah Tracy. Bayangkan saja, wanita berkulit hitam ini adalah seorang mahasiswi kedokteran tahun terakhir jurusan psikologi pula di universitas yang terkenal di Amrik. Bahkan ia bercita-cita menjadi seorang patologi forensik. Singkatnya ia adalah tipe gambaran sosok gadis impian: cantik, pintar, sukses, dan berprestasi. Tipe anak yang sangat dibanggakan ortu.
Tapi siapa menyangka kalo Tracy mengaku kecanduan seks! “Siang aku kuliah tapi malam aku mencari pria untuk berhubungan seks!” ungkapnya berani.

Selama tiga tahun terakhir Tracy telah tidur dengan 25 lelaki. Seringnya ia mendapatkan ‘korban’ di mini market dan pompa bensin (saat mengisi bensin mobilnya). Jarak antara waktu perkenalan dan ke tempat tidur minimal satu jam!

“Kau sadar pengakuan ini bisa berpengaruh dengan masa depanmu?” Oprah mengingatkan.
“Ya…. aku tahu…”
“Mengapa kau mau melakukan hal ini?”
“Karena aku sadar punya masalah dan ingin sembuh….” ujar Tracy.

Aneh tapi nyata, kedua gadis ini nggak kapok meski pernah diperkosa calon ‘korban’ mereka. “Awalnya ia terlihat sebagai lelaki yang baik, normal, namun ternyata ia bengis. Mulai mencaci, marah, dan memaksa melakukan hubungan seks!”
Uniknya lagi, meski udah tidur dengan 25 lelaki, Tracy mengaku belum pernah merasakan orgasme!

Lagi-lagi Oprah bertanya apakah Tracy nggak ingin memiliki hubungan yang normal, mungkin dari laki-laki yang pernah tidur dengannya ada yang ingin menjadikannya pacar.
Tracy mengangguk,”Beberapa memang menelpon kembali. Tapi saya nggak mau punya hubungan tetap dengan pria one night stand itu…”

Jenifer pun merasa jijik ketika suatu hari ia memergoki pria yang pernah tidur dengannya, tengah merayu cewek lain untuk diajak bobo’ bareng.
Memang aneh ya kasus ini. Mereka nggak bisa mengerti perilaku buruk itu, mereka kecanduan seks tapi nggak mendapatkan kepuasan saat melakukannya. Mereka pun merasa kotor dan jijik setiap habis tidur dengan lelaki.

Tapi kebanyakan mempunyai masa lalu yang nggak baik, misalnya kurang perhatian dari orang tua, pernah dicabuli atau diperkosa, atau dikenalkan pada pornografi terlalu dini, seperti yang pernah juga dialami Jenifer.
Tracy beda lagi. Ketika kecil dan remaja ia memiliki penampilan di bawah rata-rata, sering diejek jelek, nggak pede, dan nggak yakin ada pria yang mau jalan dengannya. Namun ketika semakin beranjak dewasa (khususnya saat kuliah) ia terlihat semakin menarik dan banyak yang menyukainya, Tracy menikmati itu. Ia selalu tersanjung saat ada lelaki yang memuji dan merayunya.

Kemudian menyinggung sedikit Oprah Show lainnya tentang seorang penyanyi Gospel terkenal Kirk Franklin, pemenang Grammy Award yang ternyata kecanduan pornografi.
“Aku merasa munafik. Di satu sisi aku menyeru kepada Yesus….” jelas Kirk.

“Ya… bahkan aku suka lagu-lagumu…” sahut Oprah.
“Tapi di sisi lain… aku kecanduan film porno…” lanjut Kirk.
Kirk berpikir pernikahan bisa menyembuhkan kecanduannya. Ternyata menikah dengan Tammy yang cantik dan bertubuh indah, tidak juga membuatnya bisa mengalihkan dari film porno.
“Aku bahkan melakukan kesalahan… dengan membawa pornografi dalam perkawinanku…”

Ia kerap meminta Tammy berperan bak gadis-gadis di film porno itu, namun istrinya keberatan,”Sesekali nggak apa aku memakai kostum seperti mereka, atau melakukan seperti yang di film, tapi jika ini menjadi rutinitas…. aku tidak merasa nyaman…” Tammy berkomentar.
“Ya….aku sadar cewek-cewek dalam film porno itu adalah pemeran. Perkawinan bukanlah pementasan. Nggak ada set, lampu, trik, dan kamera,” Kirk mengakui.

Sebagai penyanyi Gospel dan besar di lingkungan keluarga yang taat pada ajaran Kristen, Kirk paham betapa seks pranikah itu dosa. Tapi kecanduan yang dialaminya membuat ia nggak bisa mengontrol dirinya. Bahkan setelah menikahpun, ayah empat orang anak ini kerap melakukan berbagai kesalahan (mungkin affair one night stand).

Betapa beruntungnya ia memiliki Tammy yang selalu mengerti saat Kirk terus terang telah melakukan kesalahan, meskipun bukan berarti Tammy nggak pernah marah.
“Bukan tanggung jawabku untuk membuatnya sembuh. Kirk harus berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Aku pasti selalu mendukungnya tapi bukan berarti aku harus selalu bersamanya saat kecanduannya itu kambuh,” kata Tammy.

Ini diamini oleh DR. Robin Smith. Intinya kesembuhan hakiki itu bisa diperoleh dengan tekad dan kemauan keras si penderita. Orang-orang di sekitarnya bisa berperan dengan memberikan bantuan dan dukungan, tapi peran terbesar tetaplah berasal dalam diri si penderita.

Seorang dokter lain (saya lupa nyatet namanya) bilang seorang pecandu seksual sama dengan pecandu narkoba atau alkohol. Mereka nggak bisa sembuh jika melakukannya sendirian, mereka harus dibantu dan didukung oleh teman, keluarga, bahkan lingkungan berinteraksinya berperan besar membuatnya sembuh atau kembali mencandu.

Ternyata nggak hanya kecanduan obat-obatan terlarang yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Kecanduan seks seperti ini nampaknya butuh penanganan juga. Saya nggak tahu apakah masalah kecanduan seks ini di Indonesia juga mendapatkan perhatian sama besarnya dengan kecanduan narkoba.
Kalo masalah seks bebas sih… jangan ditanya ya. Menarik juga ya hal ini kalo dibuat penelitian khusus dan dibuat buku, he he he…. dasar penulis low!
***

udah seneng-seneng…eh taunyaaaaa…

September 20th, 2006 by laura-khalida

Biasa bergerak dan nggak bisa diam, membuat saya rada mati kutu ketika saat ini mau nggak mau kerja di belakang meja. Maklum, mantan reporter dan biasa mobile, tau-tau kudu melototin naskah di kompie, membuat saya merasa boring dan bete pada awalnya.

Saat ini saya kerja di Let’s Go! Indonesia, milik seorang entrepreneur Valentino Dinsi (akhir-akhir ini doi kerap muncul di Metro TV) yang nulis buku best seller ‘Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian’. Hampir di tiap pojok Gramedia, tuh buku ada he he…. dan sekarang udah hampir terjual sampai 100.000 eks lho.

Saat ini sih posisi saya Editor, merangkap Media Relations (MR), tapi tim MR ini baru efektif bergerak sehabis lebaran kelak. So… kudu nahan-nahan diri dulu deh di belakang meja!

Yang ada saya mondar-mandir aja ke atas dan bawah. Ruangan saya sih di lantai dua, di bawah merupakan distributor buku. Buku-bukunya ok punya dan saya suka ‘nyolong’ untuk dibawa ke atas, terutama buku yang nggak di-wrapping plastik. Merupakan kumpulan buku islami dan entrepreneur, kalo beli pun dapat diskon dan bisa bayar belakangan… he he…syaik khan?

Hari pertama dan kedua kerjaan saya menguaaappp melulu, he he… sekarang sih mending. Apalagi rekan-rekan kerja saya asyik-asyik. Rekan sebelah meja merupakan orang IT yang gape banget ngomongin teknologi komunikasi dan komputer/gadget terkini, cocok banget dengan saya yang juga meminati bidang yang sama. Kalau udah ngomongin perkembangan teknologi komunikasi, komputer, dan software grafis….wahhhh susah nyetopin doi, kadang saya yang bengong, “Plis deh Mas… pake bahasa orang awam…. kagak mudeng niyyyy…”

Lalu ada pula seorang Ustad yang demen becanda dan suka jadi sasaran saya bertanya dan diskusi, sampai rekan satu divisi ikutan serius dengerin dan ngelontarin opininya. Sampai si ustad kadang kewalahan ngeladenin saya dan mutusin ngadain kajian aja tiap jumat bada Ashar, he he….

Oh ya berkaitan dengan judul di atas nih, ceritanya kemarin (19 Sept 2006) kebetulan saya rada boring lagi. Tugas saya membuat naskah komik entrepreneur dah kelar, yo wis saya baca-baca buku tentang…. pendakian menuju Allah gitu deh… masuk ke sub bab taubat. Seru juga neh, bukunya cukup tebel, sementara di meja saya juga ada buku lain, yakni Dunia, Neraka, dan Surga. Tebel juga, nggak saya baca perlembar (duh kelamaan), diselang-seling aje.
Saya baca-baca sambil dengerin MP3 di HP saya pake earphone. Saat itu udah jam 15.00. Saya udah siapin Laptop, mau mampir Detos untuk ngenet gratis plus upgrade antivirus. Gak sabar nunggu jam lima sore, ceritanya.

Tiba-tiba, Mbak Desy, rekan kerja nyolek, saya mengecilkan volume MP3,
“Apaan?”
“Ke Citra Gran sekarang Mbak….”
“Besok aja deh….” tolak saya. Tadi emang doi sempet minta tolong antarin ke Citra Gran (Cibubur) untuk buka rekening bank, tapi katanya besok. Kok jadi berubah sore ini. Saya malas….

“Sekalian pulang…” katanya melegakan. PULANG?
“Oh, kalo gitu… ayo deh…” ucap saya girang sambil buru-buru beres-beres, membuat rekan yang lain ketawa.
“Kalo udah pulang aja… mau…” canda Diah. Iyeaaalahhhhhh….. he he

Taunya Desy kagak ikut, saya cuma dimintai tolong antar berkas yang ketinggalan untuk si Pak ustad yang lagi ada di Bank Syariah Mandiri. Yo wis nggak apa-apa meski kudu muter, yang penting saya bisa tiba di Detos sebelum magrib.
“Makasih ya Allah… ngerti aja deh suasana hati…” syukur saya.

Segera saya ambil dua buku tebel tadi untuk mengembalikannya di rak buku bawah. Sudah siap dengan jaket jeans saya, ransel tempat laptop, tas selempangan, dan menenteng dua buku tebel, heboh banget, masuk ke divisi distribusi, membuat semuanya menoleh ke saya.
“Duh… habis ngerampok, Mbak?”
Saya meletakkan dua buku tebal tadi ke rak.
“Waduh… jangan-jangan udah katam tuh anak!” sahut yang lain. Saya nyengir doang.
“Belum lage…. ada yang masih diplastikin nggak?”
“Ada…” sahut Deny mulai mencari, cuman kemudian saya ingat pesan Desy, buru-buru ke BSM, ditunggu hingga jam empat, mau nggak mau saya keburu ngacir.

“Lah ini orang… mau dicariin juga….”
“Sorryyyy… aku disuruh buru-buru…” sergah saya merasa nggak enak juga.

Setelah sampai BSM di Citra Gran dan menyerahkan berkas, saya mampir ke pom bensin untuk ngasih minum Mio dan sholat Ashar. Trus poles-poles wajah dikit (tetepppp, maklum cewek he he) dan cabut ke Detos.
Sampai Detos, perut keroncongan saya tahan, nggak sabar buka laptop. Setelah connect dengan hot spotnya… alamak…. pake IE dan Mozilla nggak ada yang beres… semua nggak bisa buka, mau yahoo, multiply, friendster, msn, google… gagal kabeh!!!

Dughhhh… mulai deh bikin bete lagi. Dua orang waiter saya mintakan tolong carikan customer care untuk mengadukan masalah ini. Nggak ada yang balik!!! Betul-betul dehhhh… he he…
Udah gitu, cume saya pula satu-satunya yang bawa laptop, kok tumbenan sepi yah, nggak ada tempat sharing keluhan. Saya lantas teringat sempat ngesave telpon Detos, saya langsung telpon dan complain, tau jawabannya, “Maaf Mbak bagian IT nya lagi latihan darurat kebakaran semua….”

Halah-halah… apa berarti sengaja di non aktifkan kale ya? Dughhh… kok ane yang ketiban sial seh???
Kuesel rek rasanya…. capek-capek ke sini, bela-belain dari Cibubur ke Detos… lumayannn kan pegelllnyaaaaa….
Yo wis lah, Allah emang lagi nguji kesabaran saya. Sifat terburuk saya emang nggak sabaran! Jadi sempet bete duehhhh… sampe rumah sih nyengir, malu-maluin aja, gitu aja bete. Iyalah…. he he…

Udah seneng-seneng… eh taunyaaaa…….

***

Doakan saya Mabrur Ya….

July 2nd, 2006 by laura-khalida

Doakan saya Mabrur….

Rekans sekalian…. Alhamdulillah…. Insya Allah…. saya berkesempatan menunaikan ibadah umroh. Rencananya rombongan saya akan berangkat pada Jumat 7 Juli 2006 sore. Mengenakan pesawat Garuda Indonesia, Insya Allah kami take off pukul 15.40.

Rekans… sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau saya pernah ada salah-salah kata, salah sikap, salah tindakan, dan sebagainya. Doakanlah semoga perjalanan kami lancar dan ibadah kami di sana mabrur. Semoga di sana kami benar-benar mampu merasakan kalau kami adalah hamba yang nggak ada apa-apanya, yang kecil, yang suka sok tahu, yang banyak maunya.

Semoga kami bisa evaluasi, muhasabah, dan tentunya Allah menerima ibadah kami yang nggak ada artinya ini.

Saya sendiri lagi dag dig dug, mengingat sifat saya yang nggak sabaran, mudah-mudahan saya di sana bisa mengendalikan diri. Doakan baik-baik saja ya. Insya Allah tanggal 16 Juli 2006, rombongan kembali ke Jakarta.

Terima kasih atas perhatian dan dukungan rekans selama ini pada saya. Sekali lagi mohon doanya, eh…. yang mau titip doa juga boleh kok….

***

Akhirnya Ada J.Co Di Margo City

June 26th, 2006 by laura-khalida

Ceritanya Jum’at lalu sebelum les desain grafis di LP3I saya kudu ngenet dulu, ada naskah yang harus disetor, kemudian waktu masih jam 14.30 (les jam 17.00). Emang sih udah planning mau ke Margo City. sebenarnya udah lama buka tapi males aja ke sana karena pasti masih sepi.

Nggak tahunya suatu saat sepulang dari Kebayoran Baru hari Minggu sebelumnya, begitu mobil bokap melintasi Margo City, terhenyaklah saya membaca plang ‘J.Co’ telah ada di sana. Waooo… biasanya saya cuman bisa bengong kalo lihat di acara ‘Rekomendasi’ nya O’ Channel. Habis jauh adanya di Citos. Nggak jauh-jauh amat sih dari Depok, cuma males aja.

Makanya saya langsung ngacir ke sana pake Mio, nggak nunda lama langsung ngantri. Tapi sebagai new comer di J.Co saya merasa nggak nyaman pas ngantri, karena bingung kan mau pilih donat yang mana, begitu nanya Mbak nya donat apa yang enak, dengan terburu-buru dia mengambil dua donat dan main naro aja di piring saya, tanpa nanya persetujuan saya. Mungkin dia juga pusing karena antrian masih panjang, but dengan cara begini nggak nikmat aja buat saya, kesempatan milih jadi nggak lama.

Saya juga penggemar berat sub nya kopi (macam cappucino), karenanya saya memesan satu capucino. Donatnya emang lain ya, renyah, empuk, bahkan makan 3 biji aja nggak terasa kenyang. Lain kayak donat ‘DD’ yang udah duluan ngendon di negri kita dari dulu, memang lain banget, jauh banget enak dan lezatnya.

habis itu saya main ke sebrangnya, ada ‘Breadtalk’ di sana, dan syukurlah udah ada sertifikasi halalnya, lantas saya menepuk dahi,"Alamak, tadi J.Co ada sertifikasi halalnya nggak yah…" dasar… gara-gara nafsu jadi nggak teliti.. he he…
Images

Naik AirAsia, Tensi Naik Pula…

May 30th, 2006 by laura-khalida

Naik AirAsia, Tensi Naik Pula…

Maklum, pertama kali naik Air Asia (AA) jadi pada norak. Ceritanya anak sulung kakak saya di Batam akan nikahan. So kami keluarga besar ditransfer uang tiket pesawat AA. Semua yang di Jakarta, Bogor, Yogya (kota tempat tinggal kedua mempelai dan saudara-saudaranya), sampai ada yang dari Tuban, semua numplek blek ke Batam.

Termasuk kami. Namanya pengalaman pertama naik AA yang unik memang bikin penasaran. Tapi jantungpun kebat-kebit. Pertama, Mama yang ragu akan keselamatan selama terbang. Namun saya meyakinkan beliau, “Jangan kuatir, Ma… standar keselamatannya ngikutin standar internasional, kok. Dia murah karena memotong mata rantai pemesanan tiket, tiketpun kita yang nyetak sendiri setelah diambil dari internet, bla bla bla…”

Kemudian Bapak yang pada hari H (Senin, 22 Mei) sibuk dan resah sendirian. Kami terbang jam 15.00 (emang sih jarak bandara dan rumah di Cimanggis jauh, but biasanya berangkat dua jam sebelumnya keburu) tapi Bapak minta kami jam 11 siang udah berangkat ke airport.

Kasak-kusuk lah saya dan ponakan yang baru berkemas setelah kelelahan karena sehari sebelumnya jadi panitia acara pengajian remaja ‘Seks di Usia Muda’ .Karena beliau mau nyusun koper di mobil. Udah gitu kita pake acara minta turunin koper ponakan karena ada barang yang belum masuk. Meskipun Bokap sih nurunin juga kopernya sambil ngedumel he he he…

Sampai bandara, Bokap semakin tegang, nggak sabaran, dan buat kite-kite (saya, mama, dan dua ponakan) juga tegang dan berdecak melulu. Karena katanya kan AA landingnya sebentar, so beliau maunya buru-buru aja.

Padahal…. penerbangan ketunda 1,5 jam saudara-saudara! Dimulai telatnya pesawat datang. Padahal saya dan bokap dah antri, bersiap untuk lari mencari bangku (maklum pertama kali, katanya kan kayak naik bis umum, rebutan bangku. Kita berlima maunya berderet, apalagi Mama nggak bisa jalan cepat)

Yo wis, pada bubar antrian di belakang gate keberangkatan, tapi beberapa bertahan termasuk saya. Pegel-pegel saya tahan, bengong aje dengerin obrolan dua bapak (satu chinese, satunya Flores kayaknya) tentang cara membesarkan anak dan kesedihan akan masa depan bangsa kita. Saya diam-diam salut dengan si bapak chinese, obrolannya berisi banget.

Terus jam 15.30 an gate dibuka. Iya loh… pada lari menuju pesawat. Nggak nyaman si sebenarnya cara begini. Saya dapat di deretan G sudah saya take lima bangku (tiga deret sebelah kanan dan dua bangku di kirinya, menyisakan satu yang kosong). Panik-panik sebel nungguin keluarga saya yang lamaaaaa… banget nggak nyampe-nyampe pesawat.

Tiba-tiba,”Oh…ini kosong….” seorang Bapak dengan koper kecil main serobot wilayah saya dan duduk di samping jendela.
“Ini ada orangnya Pak,” protes saya.
“Apaan ada orangnya, mana????” katanya cuek, nadanya meninggi.
“Loh, ini sudah saya jagain buat keluarga saya,” jawab saya lagi.
“Mana? Nggak boleh gitu Mbak, orangnya nggak ada kok!” ia berkeras. Gondok banget saya, tapi karena nggak mau ribut, saya ngalah, untunglah deretan sebelah kiri sama sekali belum keisi, so kami tetep bisa berdampingan.

Nggak lama datanglah Leka (ponakan remaja) dan Fira (ponakan kelas 2 SD), langsung saya suruh mereka duduk dulu di samping si bapak reseh itu, saya pindah ke deretan kiri, ngejagain. Barulah nongol bapak dan mama.

“Pak, duduk di sana, samping bapak-bapak reseh itu, main rebut bangku kita aja!” saya berkata pada bapak, nggak tau deh dia denger/nggak, saya masih gondok banget sama tingkahnya tadi.
Akhirnya Fira duduk di tengah, Bapak di paling pinggir. Kemudian deretan kirinya diisi Leka, saya, dan Mama.

Eh yang nyebelinnya lagi, entah keder atau kenapa, si reseh itu malah membuka percakapan sama Bapak saya! Sebel kan??!!! Ditanggepin si sama Bapak tapi sekedarnya. Dia sempet ngajak Fira becanda pula. Gimana nggak makin sebel ane?

Apa tindakan saya salah nge-take-in bangku? Saya melihat penumpang lain juga melakukan hal yang sama kok. Bahkan ada seorang bapak lagi yang kayaknya kenal dengan si Pak reseh itu, tadinya dia ikut-ikutan mau duduk di samping dia, namun saya bilang, “Ini ada orangnya, Pak,”
Syukurlah dia nggak jadi, malah ngomong ke si Pak reseh, “Ada orangnya tuh…” kemudian doi ke belakang.

Jam 16.00 pesawat udah mundur, bersiap take off, pramugari sudah memperagakan prosedur penyelamatan jika terjadi sesuatu. Tahu-tahu…. pesawat maju lagi.
“Kami mohon maaf harus kembali karena ada masalah teknik. Akan kami kerjakan selama lima menit,” lapor pilot. Saya dan Mama sama-sama nggak tenang. Duh, pake ada masalah teknik lagi. Namanya naik pesawat, kan paling takut kite, paling kenceng jantung berpacu. Dalam hati saya, “Jangankan lima menit, dua jam benerin gue ladenin deh, yang penting bener en siap terbang!”

Jam 16.35 kami akhirnya take off, setelah sebelumnya jalan jauh banget ke landasan pacu, kok kayaknya jalan mulu, kapan take offnya sih???!!! Penerbangan Alhamdulillah lancar, meskipun kudu nahan haus karena minuman kan kudu beli (mahal bow, sayang banget uangnya, mending beli di luar, harga naik berlipat-lipat yak?)

Kemudian pulangnya, karena mencari tiket yang murah, tadinya kami dapat pulang tanggal 27 Mei. Tapi karena resepsi nikahan baru selesai tanggal 26 malam, Mama nggak mau pulang tanggal 27. Capek katanya. So, saya, Leka, dan Fira pulang duluan. Bapak dan Mama diundur tanggal 31 Mei meski harus nambah biaya. Tapi toh diurusin kakak ipar saya ini, he he he…

Tanggal 27 ini, berbarengan dengan beberapa saudara yang juga pulang hari itu, rame-rame ke bandara, dengan beberapa mobil (meski pesawatnya beda-beda). Sedihnya  paginya kan kita baru aja dikejutkan dengan berita gempa di Yogya. Sudara-saudara yang aturannya mulih ke Yogya minggu tanggal 28 Mei kebingungan karena bandaranya nggak bisa dipakai.

Sepagi itu kami sibuk mentengin teve melihat perkembangan berita di Yogya. Mana nenek di Yogya nggak bisa dihubungi lagi, untuk mengecek keadaannya. Beberapa saudara akhirnya mutusin nginap di Jakarta dulu sebelum kembali ke Yogya.

Bapak juga panik melulu, bolak-balik nelpon kakak di Cimanggis, nyuruh nelpon ke Yogya tapi nggak berhasil-berhasil dihubungi. Tapi penerbangan pulang ini lebih dag dig dug, suara mesin kayaknya aneh deh, kayak suara mesin butut (perasaan loh ya) trus take off nggak lancar. Goyang-goyang mulu, malah sempet turun sesaat, bikin geli aja. Duh… saya jadi inget Mandala di Medan, “Ya Allah… plis… baik-baik aja ya…” saya nggak henti memohon.

Saya gelisah melulu, nahan BAB pula, udah ke toilet eh di dalam toilet goyang-goyang lagi, nggak keluar deh, pipis doangan, trus buru-buru balik ke bangku, sempet nyasar lagi he he he.. jalannya kejauhan ke belakang.

Selama terbang banyak goyangnya, kayak ada suara mesin yang kurang dikasih minyak pelumas pula, duh bikin senewen, baca koran juga nggak khusu’. Yang ada selama terbang hati ini sibuk zikir dan taubat aja (masih merasa banyak dosa gitu). Mendaratnya juga kurang mulus, masih goyang-goyang mulu pesawatnya.

Tapi pas roda udah menyentuh landasan, phyuuuhhhh…….. Alhamdulillah… lega buanget, Allah Maha Buaikkk……thanks ya Allah…….

Bagaimana pengalaman rekans sekalian naik AA? Untuk Juli-Maret besok murah-murah ya? Saya pengen ke Bali nih, kudu lewat internet yak mesennya?

***

ABOUT Me (Pengakuan Berantai…)

March 12th, 2006 by laura-khalida

                  

Ini sih iseng-isengan di blog multiply. Para multiply-ers pada bikin pengakuan diri. Saya post juga di fs. Tadinya sih emoh takut disangka narsis. Tapi kata Mbak Aya buat aja, buat seru-seruan lagi. So… saya coba deh. Sebisa mungkin dah obyektif niy ya, kalo disangka narsis juga… yah maafkanlah… namanya manusia, kadang khilaf, kadang emang pengen pamer he he…

Mulai yak, ABOUT ME:

Anak rumahan. Males pergi-pergi kalo nggak penting amat. Apalagi rumah saya di pedalaman, secara ongkos bisa mahal kalo udah ke Jakarta. En’ malas aja pulang malem dari Jakarta kalo nggak ada tebengan. Makanya kepikiran beli Mio, untuk mobilitas. Pernah siy bawa ke Jakarta, malah ampe Bintaro dan Tangerang segala, sampe bokap ‘ngamuk’ nggak tega anak perempuannya ngojek sendirian hi hi… tapi emang pegel kalo bawa motor jauh, panas pula. Mendingan ngebis ato nebeng bokap.

Pernah kena Virus Minder yang cukup parah. Dan kisah ini muncul di buku non fiksi perdana saya ‘Minder Itu Nikmat Lho…’ yang terbit Maret-April 2006 ini. Saya hanya berbagi pengalaman, minder bisa dinikmatin asal tau memenejnya. Kalo nggak minder saya belum tentu jadi kayak sekarang.

Kalo di rumah senengnya ngetik, baca, dan nonton teve. Nonton teve saya jadikan referensi tulisan juga. Bacanya semua saya baca. Tabloid gosip dan kewanitaan yang dibeli kakak pun saya embat. Kalo saya sendiri belinya yang rada berbobot seperti Kontan, Intelejen, Sabili, Pulsa, PC Plus, yah yang menarik minat deh.

Seneng main ma ponakan tercinta. Di rumah bercokol empat ponakan saya. Yang terdekat yang pertama, yang mau lulus SMK tahun ini. Dari dialah saya banyak referensi kehidupan remaja yang jadi bahan tulisan juga.

Hemat. Kalo punya uang Insya Allah bisa ngaturnya deh.

Spontanitas dalam bertindak. Apalagi dalam hal belanja, makanya kalo nggak punya duit mendingan nggak mampir ke mal atawa Gramedia, bahaye, bakalan spontan tertarik untuk beli sesuatu.

Asertif dan cukup blak-blakan. Kalau suka bilang suka, nggak bilang nggak.

Bisa nyesuain diri. Duit lagi banyak atawa lagi apes, bisa nyantai aja ngejalaninnya, lagi bokek juga dibawa enjoy. Ngeluh-ngeluh dikit wajarlah, namanya manusia kan. Adanya makanan enak, atawa ala kadarnya, semua bisa masuk perut. Asal laper di tengah hutan, belalang bakar juga jadi kali he he… Siapa bilang saya nggak bisa diajak susah? Belum kenal aje siy….

Seneng banget sama Sayur Asem, Ketoprak, dan Pizza. So kalo mau ajak saya makan… udah tau kan? He he… tapi terbuka juga dengan menu lain lohhhh.

Suka turunannya kopi macam kopi susu, capuccino, dll. Mo ngajak ke Starbucks, J.Co? Siapa takut! Pure teh hijau juga minum tiap hari.

Geli banget ma Cicak! Ihhhhh geli abizzzz, walo sering ketimpaan juga, Cicak bandel yang suka jatuh dari atas. Tapi di kamar saya banyak Cicak tuh, gemuk-gemuk lagi. Kalau malam diam-diam mereka suka keluar untuk makanin bangkai nyamuk yang mati dan jatuh di lantai akibat disemprot.

Cenderung Pengalah. Saya nggak mau punya musuh, so kalau udah konflik ma orang (tergantung masalahnya juga yah) saya cenderung ngalah aja. Biarin deh dia mao marah-marah, saya mending diam aja. Kecuali kalo udah menyangkut hak yang dilanggar atau masalah berat, ya… bisa lantang juga saya bicaranya.

Tergantung Mood. Ini jeleknya. Dalam nulispun ngikutin mood, kalo nggak mood ya nggak nulis. Akibatnya banyak novel menggantung karena moodnya beralih ke tulisan lain….Padahal nggak boleh gitu. Mau ke mana-mana juga ngikutin mood. Kalo mood jalan, nggak mood ya di rumah aje.

Suka nggak pede. Virus mindernya belum hilang 100 %. Tapi tetep ada hikmahnya dan manfaatnya, makanya ntar beli yah buku saya….

Suka banget lihat Fear Factor segmen kedua, yang adegan makan-makan yang menjijikkan itu. Itu kan yang paling menarik. Masalah tantangan fisik sih udah biasa.

Suka panik. Baru mendengar sesuatu yang gimana gitu, tau-tau panik. Tapi setelah dijelasin or ditenangin siy, biasa lagi. Ekspresi pertama doangan kok.

Nggak suka rokok!

Penyayang binatang. Dulu saya pernah miara anjing (waktu belum gitu peduli dengan nilai agama yah), iguana, kura-kura, binatang malu-malu (lupa namanya… Kus kus yah?), ikan oskar. Sekarang siy di rumah punya ikan di kolam (mama yang miara), burung merpati di sangkar (bokap niy) en kucing liar yang betah di rumah karena saya kasih makan. Kalau saja anjing nggak haram… mungkin masih saya piara. Kebukti sih mereka men’s best friend. Nggak tegaan kalo nemu anjing or kucing kelaparan di jalan, saya bisa aja beli roti, lauk ikan/ayam untuk dia.

Kalau marah itu ngambeg atau diam. Ngambeg biasanya kalo cemburu hi hi… cemburu kan luas lohhhh, kalau lama nggak diperhatikan temen yang asyik ngobrol ma temen lainnya, juga bisa cemburuan.

Semi Mandiri. Nggak keberatan ke mana-mana sendirian kalo nggak ada temen. Jadi nggak mau bergantung ma orang lain. Ada temen syukur, nggak ya udah. Jadi nggak mandeg deh.

Nggak sabaran. Ini siy emang yang terparah, bener deh, maunya serba cepat ajah, instan he he…

Tanggung jawab ma kerjaan. Kalau udah jadi tanggung jawab saya, ditanggung beres tuh kerjaan, sebelum deadline juga kelar, kecuali ada kendala teknis. Udah kebukti kok, tanya aje ama kru ex Safina, kru majalah Muslimah, dll…

Suka lupa naro Kacamata. Terutama kalau habis dari kamar mandi. Duh keriting deh nyarinya.

Kalo pulang kerja en capek bawaannya bete. Kata ponakan niy wajah gue jutek sampe dia nggak berani negur, takut kena semprot! But kalo udah kena air (udah mandi gitu) gue adem! Sumpe!

Masih mikir… kapan yak Allah mengijinkan gue bertemu dan bersatu ama soulmate… he he….

Udah kali ya, kebanyakan malah, gue aja kaget bisa segitu banyaknya describe diri gue, nanya ponakan juga siy, biar obyektif. Katanya sih nggak ada yang meleset he he. Gimana komentar rekans, yang merasa kenal gue n mau nyangkal bisa kok, terbuka. Menerima kritik dan saran juga. Meski kuping panas dengernya… tapi tetep itu bahan instropeksi. So silahkan yang mau kritik yak. Tapi kritik membangun ya.

Peluncuran Maha Kasih dan rating No. 1

January 12th, 2006 by laura-khalida

Konferensi Pers ‘Maha Kasih’ dan Rating No. 1

Rabu, 4 Januari 2006 lalu, bertempat di RCTI, digelar konferensi Pers mega sinetron ‘Maha Kasih’.

Hadir saat itu beberapa bintang yang ikut membintangi sinetron kerjasama Sinemart dan Wisatahati Corp ini, seperti Maudy Koesnaedi, Intan Nuraini, Mat Solar, hadir pula Chaerul Umam, Imam Tantowi selaku sutradara dan penulis skenario, dan tentu saja Ustad Yusuf Mansur, selaku chairman Wisatahati.

Sinetron ini diharapkan menjadi tontonan alternatif, di mana saat ini masih banyak sinetron religius yang terkontaminasi mistik. Maha Kasih memaparkan kisah nyata, testimoni sedekah yang berhasil dikumpulkan Ustad Yusuf Mansur dari berbagai daerah. Cerita-cerita yang sederhana namun sangat menggugah dan penuh makna.

Tayangan perdana ‘Tukang Bubur Naik Haji’ sampai tayang dua kali, yaitu pada tayangan reguler, Sabtu jam 19.00 yang diulang pada hari raya Idul Adha pukul 13.00

Alhamdulillah, kemarin waktu kami berkumpul di kantor pusat WH di Bintaro Trade Centre, Ustad Yusuf mendapat kabar kalau Maha Kasih ratingnya menduduki peringkat SATU.

Semoga kehadiran sinetron ini mampu menawarkan sesuatu yang beda. Doakan kamu konsisten di jalan dakwah ini. Dan kami sangat mengharapkan rekan-rekan yang mempunyai testimoni sedekah yang mampu menggugah orang lain untuk ikut bersedekah, untuk membaginya melalui email laurakhalida@yahoo.co.id

Kalau keberatan identitasnya disertakan juga tidak mengapa. Kami menghargai permintaan anda. Tapi perlu diketahui testimoni ini bukan berarti riya melainkan untuk membuat hati orang lain terketuk dan tidak ragu bersedekah, karena sesungguhnya balasan Allah sangat tidak kita sangka.

MTV GOES TO SCHOOL PAKE KONDOM

December 11th, 2005 by laura-khalida

                                       MTV Goes To School Pake Kondom

Minggu pagi ini (11 Des 2005) sebelum mulai aktivitas mengetik, saya dan dua ponakan ceritanya ngejogrokin teve dulu. Ponakan remaja saya gonta-ganti saluran, sementara ponakan SD saya ngerecokin laptop.

Kami asyik lihat Sin chan dan suatu ketika teve beralih ke Global TV. Saya melihat VJ Cathy sedang bicara di depan sebuah banner besar. Ternyata itu acara ‘MTV Goes to School’ di SMA Bhakti Mulya. Fine-fine aja sih tuh acara, positif malah saya nilai, but yang bikin saya melongo…. Salah satu sponsornya itu loh… sebuah merk kondom yang kerap menjadi sponsor acara-acara MTV. Kondom yang sengaja dibuat semarak dan warna-warni (boleh nyebut merk, nggak seh???)

Apa pantas kondom menjadi sponsor sebuah acara di SMA yang notabene penghuninya remaja yang belum menikah? Maksudnya apa? Mau ngajarin mereka safe sex? Herannya pihak sekolah kok mau aja, ya? Apa mungkin awalnya mereka nggak ngeh kalau salah satu sponsor besarnya adalah kondom? Kayak nggak ada sponsor lain, saya yakin MTV nggak kesulitan mencari sponsor yang lebih pantas untuk mendukung mereka mengadakan acara di sekolah-sekolah, kenapa harus karet pengaman itu?

Dari awal melihat iklan kondom tersebut di MTV, saya sudah menebak segmennya generasi muda, karena dikemas semarak dan penuh warna, mungkin juga dengan rasa yang berbeda. Kalau ditayangkan di amrik sono sih bodo amat ya, emang budaya mereka seperti itu. Tapi ini kan Indonesia? Masih mending iklan rokok kale’ dibandingkan iklan kondom.

Indonesia selalu permisif sama hal yang ginian, semua bebas tayang dan bebas terbit. Nggak heran remaja kita sekarang udah nggak masalah dengan seks bebas, bahkan tempo hari waktu saya wawancara dokter Inong (spesialis kulit dan kelamin) yang praktek di RS Ibu dan Anak Permata Cibubur, cerita kalau setiap jumat secara cuma-cuma menawarkan diri memberikan seks edukasi di SD-SD (khususnya kelas enam) dan sebuah pengalaman membuatnya syok (saya juga yang mendengarnya).

Bayangkan saja kelas enam SD sudah tanya-tanya tentang oral sex! Sampai gurunya saja mau marah, tapi dengan bijak dokter Inong bilang, “Jangan Pak, dia mau terbuka saja sama saya sudah bagus,” Setiap ceramah, dokter Inong selalu membuka line sms agar para murid mau curhat terbuka tanpa menyebut nama, dan pertanyaan mereka selalu bikin kaget. “Yang jelas kalau SD nonton film porno itu udah biasa…” terangnya. Yah masalah film porno… nggak munafik saya pun dikenalkan pertama kali sama teman juga waktu SD. Tapi kita kan emang lagi polos-polosnya saat itu. Lagi kerja kelompok di rumahnya tiba-tiba dia menggeser teve ke kamar itu, dan tau-tau kita disuguhi film biru. Cuma jamannya kan beda. Dulu kita sebatas nonton, sekarang?

Akhirnya dokter Inong yang dalam setiap ceramahnya selalu membawa sampel berupa gambar, sekalian saja menampangkan (maaf) foto-foto kelamin pria dan wanita yang paling jelek (yang terkena penyakit) biar membuat mereka keder sekalian. Belum lagi penayangan film ‘Satu Kecupan’ (dulunya ‘Buruan Cium Gue’ yang dulu sempat dicekal) di Indosiar beberapa malam lalu.

Penanyangan jam delapan malam dan menurut saya itu film sama sekali nggak ada pesan moralnya. Hanya menayangkan kehidupan hura-hura remaja dugem yang berpakaian ala ‘Baywatch’ dan terkesan menghalalkan seks bebas. Intinya si cewek bingung kenapa cowoknya nggak pernah ngajak ciuman kalau pacaran, endingnya si cowok akhirnya mau juga ciuman, ditayangkan di teve lagi, yang mendapat sorakan gembira teman-temannya. Nggak ngerti deh apa maksud Indosiar menayangkan itu selain maksud komersil.

Masalah ciuman sih masalah pribadi, hak setiap orang mau dilakuin kapan kek, ama siapa kek, tapi nggak usah membuatnya menjadi biasa di kalangan remaja yang seharusnya (secara agama) nggak boleh melakukan itu sama non muhrimnya. Maaf, saya di sini nggak bermaksud ceramah ya, saya juga tau diri, nggak pantas memberikan ceramah, Makanya saya berharap RUU anti pornografi dan pornoaksi yang sedang kontroversial sekarang cepet-cepet disahkan kali ya.

Saya kurang tau persis isinya karena waktu nonton di acara ‘Silet’ RCTI, saya telat. Kalau nggak salah dendanya sampai ratusan juta ya. Seperti biasa RUU ini mendapat tentangan dari sekelompok selebs yang emang biasa tampil terbuka dan goyang syur. Kita pasti sering melihat di event-event yang muncul di teve, betapa selebs kita yang melenggang di Red carpet, sudah berpakaian ala selebritis hollywood, dengan gaun terbuka yang menonjolkan sebagian payudara mereka. Kita memang sudah membutuhkan UU seperti itu, kalau nggak sekarang kapan lagi? Mau dibawa ke mana Indonesia? Mau kayak Amerika? Kembali ke kondom tadi.

Dulu tahun 1994 waktu saya homestay ke Aussie saat jalan-jalan saya melihat di etalase toko, kondom dengan berbagai rasa. Ada strawberry, jeruk, apel. Saya sempat bingung dan nanya ke teman, “Kok ada rasanya sih? Maksudnya apa?” Teman saya sampai ketawa, “Payah lo,” lalu dia menjelaskan. Kemudian di toilet-toilet sana selalu ada mesin otomat yang berisi pembalut dan… kondom.

Mungkin untuk kondisi ‘darurat’. Yah kalau di Aussie sih biasa ya. Yang saya sedih, saya pernah baca kabarnya mesin-mesin itu sudah mulai ada di Indonesia, khususnya di beberapa wilayah seperti Papua, Makassar, dan wilayah lain. Haduuhhh… cilaka ini mah….lagi-lagi negri kita permisisf sama hal ginian.

Selain itu penayangan acara ‘Room Raider’ di MTV (pencarian kencan dengan cara mengacak-ngacak kamar para kandidat) biasanya di kamar para remaja amrik sana sering ditemukan kondom, film atau majalah porno, situs porno, bahkan alat-alat seks. Nggak usah di amrik, bahkan ponakan saya pernah cerita kalau ada teman cowoknya yang selalu menyimpan kondom dalam dompetnya.

Entah deh untuk digunakan atau sekedar gaya-gayaan. Nggak ngerti deh sistem di Indonesia. Mau EGP tapi jiwa ini merasa terpanggil. Yah… saya nggak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki moral bangsa, siapa sih saya? Mungkin moral saya juga belum bagus-bagus amat. Saya hanya bisa mempersembahkan tulisan yang nggak berarti ini. Semoga bermanfaat dan bisa menggugah hati kita semua. Semoga Allah melindungi kita dari kemaksiatan yang semakin merajalela, amin…

***

Para Ortu: Waspadai Gaul Anak remaja Anda

November 23rd, 2005 by laura-khalida

Membaca kasus seks bebas yang dilakukan siswa SMA di Cianjur tentunya membuat kita bergidik ngeri. Ya Allah… apalagi ini? Remaja kami kembali mendapat sorotan yang negatif.

Saya memang belum menikah, apalagi punya anak. Tapi saya punya tujuh keponakan, dan tiga di antaranya sudah remaja. Ponakan pertama saya yang kelas 3 SMK bahkan tinggal dengan kami di Cimanggis. Terus-terang saja awalnya dia datang ke sini (lulus SMP), kami mengalami banyak benturan dalam membimbingnya (sampai sekarang masih).

Kebetulan dia dikaruniai fisik yang lebih oleh Allah dan seperti remaja puber lainnya, ia sadar diri dengan kelebihannya itu dan nggak heran banyak kumbang mengitari. Cuma… ngebayangin ngerinya pergaulan sekarang, bahkan dia juga cerita bagaimana temannya pacaran sudah sampai check in di hotel segala, ada juga temannya yang pinjam uang untuk gugurin kandungan ceweknya. Ih…. gimana nggak merinding ini bulu kuduk?

Jaman saya kuliah dulu, seks bebas juga udah mewabah, tapi kok kayaknya nggak seheboh sekarang. Otomatis ini membuat kami di Cimanggis (saya, ortu saya yang merupakan opa-oma nya dia) jadi agak ketat. Yang pasti kami tak mengijinkan ia keluar malam kecuali ditemani saya. Ortunya di Jambi sana sih (Ayahnya adalah kakak sulung saya) malah maunya dia nggak keluar kecuali sekolah.

Tapi kami di sini kan nggak mungkin ‘mengurungnya’. Itu aja kadang masih disalahgunakan oleh dia. Ngakunya kerja kelompok taunya ke mana. Dan herannya segala kebohongan dia selalu dibuka sama Allah pada kita, entah lewat temennya, pokoknya ada saja jalan. Kadang sampai saya lelah dan meminta biar Allah saja yang menegurnya langsung, kita nggak usah tau.

Tidak bisa dipungkiri tayangan sinetron remaja yang mewabah itu menjadi pengaruh buruk. Remaja yang settingnya di sekolah, tapi nggak ada kerjaan lain selain mikirin pacaran, sampai mengurangi porsi belajar dan berkarya. Nangis kejer saat diputusin cowok sampai berbuat culas dan jahat demi memikat si dia. Saya jadi kasihan… kayaknya bagi remaja itu dunia begitu sempit. Padahal masih banyak remaja lain yang berprestasi. Oke… mereka juga pacaran, tapi nggak menjadikan pacaran itu di atas segalanya.

Lalu dalam tayangan sinetron itu kok begitu mudahnya remaja minta ijin sama Ortu untuk pergi ke mana, ke dugem segala sampai pagi. Mungkin alasannya belajar di rumah temen atau ke mana, tapi… kalau para remaja itu sudah kebablasan… siapa yang harus disalahi?

Para orang tua mungkin sebaiknya saat ini lebih waspada terhadap perilaku dan gaul remaja mereka. Kalau ada yang bilang film ‘Virgin’ dan ‘Buruan Cium Gue’ itu ada sisi positifnya, bisa jadi benar, terutama buat ditonton para Ortu, supaya mereka ngeh pergaulan remaja metropolis sekarang tuh kayak apa. Sehingga mereka lebih waspada dan kroscek kalau anaknya pamit ke suatu tempat. Nggak sembarangan kasih ijin.

Saya suka caranya Memes-Adi MS dalam mendidik Kevin, anak ABG mereka. Layaknya ABG, Kevin ingin merasakan dugem, biar aman, Memes ikut menemani sang anak dugem, jadi tidak dilepas sendirian atau sama teman-temannya begitu saja. Insya Allah anak kan lebih aman.

Dan ikatan emosi antar ortu-anak memang harus kuat. Komunikasi yang terjalin antara mereka harus insten, seperti teman. Buat komitmen dengan anak dengan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Minta usulan dari anak, hukuman apa yang akan diberikan ortu jika mereka melanggar komitmen, sehingga anak pun merasa bertanggung jawab.

Saya juga menerapkan ini pada ponakan saya, bahkan buat surat kontrak segala. Kalau dia bolos maka dia harus apa, dia ketawan bohong maka apa hukumannya. Memang sih dalam perjalanannya tetap ada melesetnya, tapi kitanya emang kudu sabar menerapkan pengertian sama dia.

Mengenai bohong misalnya, saya tekankan, "Belajarlah untuk tidak menggunakan kebohongan dalam menyelesaikan masalah kamu. Kalau kamu terbiasa bohong, nanti kebawa sampai kamu dewasa, sampai kamu kerja juga bohong sama atasan. Nanti image kamu jelek, kamu dikenal sebagai orang yang nggak bisa dipegang kata-katanya, sekali kamu berkata benar, mereka nggak mau percaya. Kamu mau begitu?"

Saya juga mulai mengajak dia dan beberapa temannya untuk ikut pengajian remaja, di mana ada materi, diskusi di dalam sana. Yah… masih ada sih kepelesetnya. Tapi dia tipe yang harus di charge terus imannya. Seminggu nggak ngaji aja… mulai deh. Pengaruh teman memang sangat dasyat buat remaja kita.

Ini saya saksikan dalam acara ‘Oprah’ minggu lalu, bagaimana remaja Amerika berbuat nakal karena pengaruh teman. Mereka minum, merokok, hanya biar disebut ‘cool’

"Cowok-cowok suka cewek merokok, makanya aku terpaksa merokok," demikian aku seorang remaja putri yang ikut konseling. Sebenarnya mereka tidak nyaman melakukan semua kenakalan itu, hati mereka menjerit, tapi mereka akan ‘sendirian’ kalau tidak mengikuti arus pergaulan teman-temannya.

Bahkan petenis dunia, kakak-beradik Venus dan Serena Williams menceritakan masa kecil mereka yang kerap diolok-olok. Penampilan mereka yang berkepala plontos, sering dikatai, "Hei.. kalian ini cewek atau cowok sih?" di kantin mereka hanya makan berdua karena tak ada teman yang mau duduk dengan mereka.

Tapi… ini membawa sisi positif buat mereka. Tak punya teman membuat mereka sibuk dengan tenis… dan lihat apa jadinya mereka sekarang?

Ini diakui mereka, bahwa dengan tersingkirnya mereka dari pergaulan itu, membuat mereka lebih mencari jati dir, menggali potensi mereka, dan mengasahnya. Efeknya? Prestasi mereka jauh lebih melesat dibanding kawan-kawan yang mengolok-olok mereka.

Jada Pinkket Smith (istri Will Smith) rupanya pernah tertekan karena diolok-olok temannya dulu. Ketika ada seorang remaja di antara penonton yang bicara, kalau ia hadir di pesta dan tidak minum alkohol, maka ia dijauhi teman-temannya, Jada memberikan jawaban, bahwa sesungguhnya kalau kita bertahan tidak minum alkohol, kita tidak mudah tergoda, maka citra yang melekat dalam diri kita adalah citra baik-baik. Nantinya seleksi alam akan terjadi, teman yang mendekat adalah yang baik-baik juga, dan itulah teman sejati kita.

Siang ini kebetulan saya lihat ‘Silet’ yang membahas kasus Cianjur itu. Hati saya jelas tambah miris, angan saya langsung terbayang dengan ponakan saya yang juga masih SMK. Dalam tayangan Silet itu ada beberapa siswa SMA yang diwawancara, mereka malah nggak kaget dengan peristiwa itu.

"Saya nggak kaget karena temen ada yang begitu, Cuma nggak direkam…"

See

? Bahkan alasan mereka yang melakukan prostitusi remaja itu bukan semata faktor ekonomi lagi, tapi udah lebih ke

lifestyle!

Seorang siswi SMA mengaku ia kerap berbohong sama ortunya, kalau malam kerja di toko, padahal ia melacurkan diri. Duh… gimana copotnya jantung tuh ortu ya kalau tau pekerjaaan anaknya.

Makanya buat para ortu… mulai sekarang ada baiknya lebih waspada. Karena kenyataannya banyak orang tua ternyata nggak kenal tabiat anaknya sendiri. Di depan mereka memang jadi anak manis, manut, tapi di luar ternyata sudah kacau sekali pergaulannya.

So.. kalau ngutip dikit ucapannya ‘Bang Napi’ waspadalah… WASPADALAH….

***